Selasa, 01 Oktober 2019

Enam "Srikandi" Rektor PTKIN Bicara Pendidikan Generasi Milenial


Humas IAIN Parepare --- Pasca pembukaan acara AICIS yang berakhir pukul 21.10 wita, Senin, 1/10/2019. Agenda berlanjut dengan sesi diskusi. Kegiatan diskusi pertama ini menampilkan enam Rektor / Ketua PTKIN, yang kesemuanya "srikandi" perempuan hebat Indonesia.









Keenam Rektor/ Ketua PTKIN ini adalah 1) Prof. Hj. Amany Lubis (UIN Syarif Hidayatullah); 2) Prof. Faizah Binti Awad (IAIN Kendari); 3) Dr. S. Maryam Yusuf (IAIN Ponorogo); 4) Dr. Inayatillah (STAIN Meulaboh); 5) Dr. Ridha Ahida (IAIN Bukittinggi), dan 6) Dr. Enizar (IAIN Metro).





Diskusi sesi pertama ini, dipandu langsung oleh Director of Islamic Higher Education, Prof. Arskal Salim GP. Tema diskusinya tetang Islamic Higher Education (IHES)'s Response to the of Disruption. Arskal Salim meminta para narasumber untuk merespon pendidikan generasi milineal di era disrupsi sesuai dengan persoalan aktual yang mereka hadapi di kampusnya masing-masing.





Prof. Faizah Binti Award, Rektor IAIN Kendari memperoleh kesempatan pertama. Rektor yang sempat viral karena memecat mahasiswanya yang terpapar paham radikal ini mengungkapkan pentingnya membangun komunikasi yang tulus dengan mahasiswa. Pendekatan bimbingan konseling yang diterapkan selama ini sangat membatunya dalam mendorong dan memotivasi mahasiswa.





Sementara Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Amany Lubis mengemukakan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa pada era digital ini adalah masalah etos belajar yang rendah. Gejala ini ditemui pada semua perguruan tinggi, tempatnya mengajar. Menghadapi masalah ini, Prof. Amany mendorong dan memotivasi mahasiswanya dengan pendekatan yang kreatif dan inovatif.





Prof. Amany menawarkan pembelajaran internasional yang menurutnya menarik bagi mahasiswa. Dalam pembelajarannya, Rektor UIN Syarif Hidayatullah mengajak mahasiswanya berselancar di dunia internasional. Pendekatan sangat efektif dalam meningkatkan dan ketertarikan mahasiswa untuk lebih mengetahui perkembangan dunia internasional.





Pembaca ketiga diserahkan kepada Rektor IAIN Bukittinggi, Dr. Ridha Ahida. Rektor ini, juga pernah viral pada tahun 2018 ketika memecat dosennya karena masalah indisipliner. Dalam pandangannya, disetiap perguruan tinggi harus menegakkan kodek etiknya. Penegakan disiplin sangat penting dalam membangun sebuah perguruan tinggi.





Sebelum berlanjut ke narasumber keempat, Prof. Arskal selaku host diskusi membuka sesi tanggapan dari partisipan. Ada beberapa Rektor, Wakil Rektor, dosen dan peserta lainnya yang memperoleh kesempatan untuk memberi tanggapan terhadap isu yang sedang didiskusikan. Diskusi ini berjalan menarik dan alot dengan beragamannya pandangan yang disampaikan para peserta dan narasumber.





Andi Bahcri, Ketua Prodi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Parepare mengaku tertarik dengan gagasan yang dikemukakan para narasumber dan para penanggap. Menurutnya pembelajaran generasi milenia perlu pendekatan yang holistik dengan berbagai karakter zaman.


Umat Islam Hidup di Era Digital yang Tidak Mungkin Ditolak


Humas IAIN Parepare --- Perhelatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke- 19 resmi dibuka tadi malam oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, Selasa, 1/10/2019 di Grand Marcure Batavia Jakarta.









Pembukaan AICIS berlangsung cukup meriah dan dihadiri ribuan sarjana muslim dari seluruh Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara menghadiri acara pembukaan ini sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara ini secara resmi.









Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang mengusung tema Digitalizing Muslim Life ini sangat penting digelar bagi umat Islam di Indonesia dan dunia pada umumnya. "Umat islam hari ini hidup dalam era digital yang sangat cepat dan tidak mungkin ditolak. Umat Islam harus sadar dan berpacu dengan waktu dalam menyiapkan diri. Jika tidak, umat Islam akan tertinggal oleh zaman".





Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat memaksa Sarjana Islam harus adaptif dan memberikan pencerahaan dan penyadaran kepada umat Islam. Khususnya dalam pemahaman keberagamaan tentang ajaran Islam moderat, damai dan toleran.





Rudiantara menyebutkan jika teknologi digital hari ini telah dimanfaatkan oleh kelompok umat Islam yang berpaham radikal dan inteloran. Media digital di Indonesia telah dipenuhi konten-konten yang cukup berbahaya dan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.





Rudiantara yang disebut terlibat aktif dalam organisasi Dewan Masjid Indonesia meminta Sarjana Muslim harus berpacu dengan kelompok-kelompok radikal ini untuk mendakwahkan ajaran Islam yang penuh cinta kasih, damai, dan toleran di media-media digital.





Sementara Direktur Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin dalam sambutannya menyebutkan bahwa peranan Kemenag RI sangat besar, khususnya dalam membangun tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia.





"Saat ini Kemenag RI membina ratusan perguruan tinggi, madrasah dan pesantren di Indonesia. Sekitar 2,5% lembaga pendidikan indonesia dikelola oleh Kementerian Agama. Jumlah peserta didiknya tidak kurang dari 25 juta orang," papar Kamaduddin pada awal sambutan. Jumlah tersebut sangat signifikan dan berkontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.





Penyelenggaraan Annual Internasional Conferensi on Islamic Studies (AICIS) merupakan salah satu upaya Kemenag RI untuk memberikan kontribusi dalam menata kehidupan masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia. Pertemuan cendekiawan Islam dalam kegiatan AICIS ke- 19 fokus membicarakan tentang Islam di era digital.





Melalui AICIS akan memunculkan banyak pokok-pokok pikiran dan rekomendasi tentang pengembangan dan pemanfaatan media digital dalam kehidupan umat Islam. Hal yang paling urgen adalah bagaimana meredam dan menangkal paham dan gerakan radikalisme yang mulai intens memanfaatkan media digital untuk melakukan propaganda dan provokasi kepada masyarakat.





Saefudin, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare yang ikut sebagai peserta memberikan tanggapannya terkait isu yang berkembang dalam pembukaan AICIS, khususnya masalah gerakan digitalisasi.





Menurutnya, kita tidak bisa menghalagi siapa pun memanfaatkan media digital, termasuk kelompok ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Oleh karenanya, kita harus berlomba dengan mereka untuk memperkaya konten-konten keagamaan di media digital, agar masyarakat dan umat Islam lebih tercerahkan.


Senin, 30 September 2019

Delegasi IAIN Parepare Tiba di Kota Tua Jakarta


Humas IAIN Parepare --- Tepat pukul 07.05 Wib, Rombongan delegasi IAIN Parepare tiba di bandara Internasional Sukarno Hatta Cengkareng-Tanggerang. Tak berselang lama, dibawa komando Wakil Rektor Bidang APK, Sitti Jamilah Amin, rombongan bergerak menuju lokasi pelaksanaan AICIS dengan menumpangi mobil bus.









Kurang 1 jam, rombongan ini tiba di hotel Marcure yang terletak di wilayah kota tua Jakarta. Hotel Marcure adalah pusat perhelatan AICIS ke- 19. Kota tua merupakan bekas pusat perkotaan sebelum kemerdekaan. Pada masanya, kota ini dikenal sebagai kota Batavia.





Kota tua ini identik dengan bangunan peninggalan masa lalu yang masih orginal. Sepanjang perjalanan di kota tua ini, berderet bangunan dengan arsitektur dan ornamen klasik. Agus Muchsin, salah satu pesera berdecak kagum. Ternyata kota Jakarta yang dikenal kota modern masih mempertahankan dan melestarikan budaya masa lalunya.





Rencananya, delegasi IAIN Parepare akan bergabung dengan peserta lainnya dari seluruh PTKIN se- Indonesia untuk mengikuti pembukaan AICIS sebentar malam, pukul 19.00 wita di Hotel Marcure Jakarta. Menteri Agama RI, H. Lukman Hakim Saefudin rencananya akan membuka secara resmi pelaksanaan AICIS ke- 19 ini.


Briefing Persiapan; Peserta AICIS 2019 Siap Berangkat ke Jakarta


Humas IAIN Parepare --- Jelang pemberangkatan peserta AICIS 2019, Rektor IAIN Parepare melakukan briefing bersama seluruh peserta AICIS yang telah ditetapkan, Senin, 30/9/2019 di lantai 5 Perpustakaan.









Ahmad S. Rustan selaku Rektor IAIN Parepare dalam pengarahannya menjelaskan peserta yang diberangkatkan mengikuti kegiatan AICIS ke- 19 di Jakarta dipilih berdasarkan dengan berbagai syarat dan pertimbangan. Salah satu syarat yang diprioritaskan adalah dosen yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.





"Saya sudah berjanji bahwa semua dosen IAIN Parepare harus mengikuti kegiatan AICIS. Jadi syarat utama yang kita tetapkan sebagai peserta adalah dosen yang belum pernah ikut," kata Rektor. Ada juga peserta yang diberangkatkan karena terpilih sebagai salah satu presenter dalam conferensi tersebut. Selain itu, panitia pelaksana juga mewajibkan guru besar menjadi peserta AICIS.





Rektor berharap pada kegiatan AICIS tahun ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh peserta, khususnya dalam peningkatan kompetensi. Termasuk meminta peserta untuk intens melakukan searhing tentang pengembangan dan pengelolaan kampus sesuai dengan tugasnya masing-masing.





Dalam schedule panitia AICIS, ada 4 orang dosen IAIN Parepare yang akan bertindak sebagai presenter atau narasumber dalam conferensi tersebut. Ke empat dosen tersebut, yaitu Dr. Ahmad S. Rustan (Rektor), Dr. H. Rahman Ambo Masse, Dr. Muzdalifah Muhammadun, dan Muhammad Haramain, M. Sos.I.





Dalam pantauan kami, ada sekitar 20 orang delegasi IAIN yang akan mengikuti kegiatan ini. Rencananya, rombongan ini akan meninggalkan kota Parepare dan star menuju bandara Internasional Hasanuddin malam ini sekitar pukul 24.00 wita. Jelang subuh hari akan melanjutkan perjalanan melalui penerbangan menuju Jakarta.





Kegiatan AICIS merupakan kegiatan yang digelar oleh Dirjen Pendis Kemenag RI yang wajib diikuti oleh PTKIN. AICIS adalah singkatan dari Annual International Conference on Islamic Studies. AICIS sudah digelar sejak tahun 2000 dan tahun ini merupakan yang ke 19 kalinya.





Pada tahun ini, AICIS diselenggarakan di Jakarta dan akan berlangsung selama 4 hari, yaitu 1-4 Oktober 2019. Tema yang diusung adalah "Digital Islam, Education and Youth. Changing Lanscape of Indonesian Islam".


Rabu, 25 September 2019

Stop…..!!! Penggunaan Berbahan Plastik dalam Lingkungan Kerja IAIN Parepare


Humas IAIN Parepare --- Sampah plastik sudah menjadi permasalahan lingkungan hidup yang serius dan mengancam. Menurut perkiraan Bank Dunia, ada sekitar 1,3 milyar ton sampah plastik setiap tahunnya di kota-kota besar. Di Indonesia, produk sampah plastik mencapai 5,4 ton per tahun.





Sampah plastik menjadi sumber pencemaran ekosistem lingkungan hidup, baik di dalam tanah, udara dan air. Temuan Greenpeace menyebutkan ada sekitar 267 spesies binatang yang berbeda jenis, diketahui telah terjerat atau mati akibat sampah plastik.





IAIN Parepare termasuk perguruan tinggi yang concern terhadap masalah sampah plastik. Setelah mencanangkan kegiatan PBAK tahun 2019 yang bebas bahan plastik. Kali ini, Rektor IAIN Parepare kembali mengambil kebijakan dengan mengeluarkan surat penyampaian tentang pembatasan penggunaan berbahan plastik tersebut.





Kebijakan tersebut tertuang dalam surat nomor B-1660/In.39.2/PP.00.9/2019 tertanggal 23 September 2019. Surat yang ditandangani oleh Wakil Rektor Bidang AUPK, H. Sudirman L., berisikan 6 poin penyampaian yang tujukan kepada para Dekan, Kepala Pusat, dan Kepala UPT dalam lingkup IAIN Parepare. Ada pun 6 poin penyampaian tersebut, sebagai berikut.





  1. Tidak menggunakan kemasan air minum berbahan plastik sekali pakai dan atau kantong plastik di unit kerja masing-masing;
  2. Setiap pelaksanaan rapat, sosialisasi, pelatihan, dan kegiatan sejenis di kantor tidak menggunakan pembungkus makanan/kemasan minuman plastik.
  3. Menyiapkan dispenser air minum dan gelas minum di setiap ruang kerja/ruang pertemuan/ruang rapat/aula.
  4. Mengurangi penggunaan spanduk, backdrop, baliho, media iklan lainnya yang berbahan plastik pada kegiatan rapat, sosialisasi, pelatihan, dan kegiatan sejenis lainnya di lingkungan kampus.
  5. Setiap kantin atau penjual yang masuk dilingkungan kampus untuk tidak menjual makanan dengan kemasan plastik.
  6. Pemimpin Fakultas, Kepala Pusat dan Unit melakukan sosialisasi dan pengawasan terhadap instruksi dalam penyampaian ini.

Selasa, 24 September 2019

Rektor IAIN Parepare Apresiasi Ekspose Data Statistik BPS Kota Parepare


Humas IAIN Parepare--Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Parepare Goes to campus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare dalam rangka sosialisasi Ekspose Data Statistik BPS Kota Parepare tahun 2019 di lantai 5 gedung Perpustakaan IAIN, selasa (24/09).





Adapun tujuan dilaksanakannya sosialisasi ini untuk memperingati hari statistik nasional yang ke 26 tahun dengan brand design “menuju Indonesia Maju dengan SDM dan Data Berkualitas”.









Acara ini dihadiri oleh Kepala BPS Kota Parepare, Rektor
IAIN Parepare, Wakil Rektor, Dekan dan wakil dekan serta mahasiswa dari
perwakilan masing-masing fakultas.





Guruh Wahyu Martopo Selaku Kepala BPS dalam sambutannya mengatakan secara umum kegiatan sosialisasi ekspose Data statisik kota parepare ini ditujukan untuk memperkenalkan BPS kepada mahasiswa agar mahasiswa mengetahui dan memahami apa itu BPS.





“Selain itu kegiatan ini juga dilaksanakan untuk memperingati hari statistik nasional yang ke 26 tahun” tambahnya





Rektor memberikan sambutan sekaligus membuka acara




Kemudian Rektor IAIN Parepare dalam sambutannya sekaligus
membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat
baik dan memberikan apresiasi kepada BPS parepare karena berinisiasi untuk
menyelenggaraan kegiatan ini.





Dan kita harap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan
bahwa seperti yang kita ketahui mengenai kondisi penduduk yang tidak pernah
permanen” ungkap rektor saat memberikan sambutan





Rektor juga mengungkapan selain itu, Sebagai sebuah perguruan tinggi yang memiliki tiga tugas utama yaitu menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat atau yang lebih dikenal dengan  tridarma perguruan tinggi.





kepala BPS Kota Parepare memberikan materi




Sehingga dalam pelaksanaan  tridarma perguruan tinggi ini terutama pada
penelitian dan pengabdian  tidak lepas
dari peran statistik dalam rangka untuk menyajikan data tentang kondisi
penduduk pada suatu daerah dan data ini sangat terkait dengan sebuah perguruan
tinggi utamanya IAIN Parepare.





Pada Kegiatan seminar sendiri berlangsung lancar dan
mendapat antusias yang baik dari para peserta yang hadir.


Senin, 23 September 2019

Prodi PBI Lounching Buku Standar Pengajaran, Warek; Buat Juga Buku Ajar Berkonten Moderasi


Humas IAIN Parepare --- Bertempat di gedung Serbaguna, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare melalukan lounching buku dan talkshow, Senin malam, 23/9/2019.









Mujahidah selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) mengatakan buku yang dilounching ini adalah buku standar pengajaran bagi Program Studi PBI. Buku ini merupakan kumpulan kosa kata bahasa Inggris yang dirangkum dari istilah-istilah yang dipergunakan dalam mata kuliah yang diajarkan di fakultas Tarbiyah.









"Tujuannya adalah agar mahasiswa PBI memiliki standar penguasaan kosa kata bahasa Inggris. Jadi kosa kata dalam buku ini wajib dihafal setiap mahasiswa PBI", ulas Mujahidah dalam sambutannya pada acara tersebut. Menurutnya penguasaan kosa kata itu penting dalam pengajaran bahasa asing, khususnya pendidikan bahasa Inggris.









Pembuatan buku standar ini, menurut Mujahidah terinspirasi dari kunjungan dosen-dosen PBI ke luar negeri beberapa waktu lalu. "Buku standar pengajaran ini mengadopsi apa yang diterapkan di beberapa perguruan tinggi di luar negeri, seperti Thailand. Alhamdulillah rekan-rekan dosen PBI sepakat untuk membuat dan menyusun buku kosa kata tersebut. Jadi buku ini adalah hasil karya bersama tim dosen PBI." papar Mujahidah.





Rektor IAIN Parepare yang diwakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, H. Muhammad Saleh menyambut baik kegiatan yang digelar Program Studi PBI, khususnya pembuatan buku standar. Bahkan Wakil Rektor ini berharap agar ke depannya juga dibuat buku standar yang berkonten nilai-nilai moderasi atau demokrasi dalam bahasa Inggris.









Selain lounching buku, juga diadakan talkshow yang menghadirikan narasumber dari Australia, yaitu Mr. Lee Joseph Gilkes bersama dengan Dekan Fakultas Tarbiyah, Dr. H. Saefudin, M.Pd., Mantan Ketua Prodi PBI, Amzah Selle, M.Pd., dan Dr. Abd. Haris Sunubi, M. Pd. Kegiatan ini dihadiri ratusan mahasiswa yang memadati gedung serba guna dan baru berakhir sekitar jam 23.00 wita.