Senin, 03 Februari 2020

BPK RI Fokuskan Pemeriksaan Laporan Keuangan Kemenag RI pada Empat Point Utama


Humas IAIN Parepare ---Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI melakukan entry meeting dengan sejumlah satuan kerja Kemenag RI di wilayah koordinasi Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan terkait pemeriksaan laporan keuangan tahun anggaran 2019 di Aula Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, Senin, 3/02/2020.









Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK), Hj. Musyarrafah Amin mewakili Rektor IAIN Parepare menghadiri kegiatan tersebut bersama sejumlah pejabat dari satuan kerja lainnya. Seperti pejabat dari UIN Alauddin Makassar, IAIN Palopo, Kepala TU Kanwil Kemenag Sulaweai Selatan, Kakan Kemenag kota Makassar dan lain-lainnya.





Dalam kegiatan entry meeting yang dihadiri Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Selatan, H. Anwar Abu Bakar. Perwakilan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI, Danier selaku Ketua tim menjelaskan bahwa dalam pemeriksaan laporan keuangan, auditor BPK akan fokus pada empat point utama.





Ada pun keempat point tersebut yaitu 1) Kesesuaian penyajian Laporan Keuangan (LK) dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). 2) Kecukupan pengungkapan informasi keuangan dengan ketentuan pengungkapan Satuan Akuntansi Pemerintah (SAP). 3) Kepatuhan terhadap peraturan perundangan-undangan dan 4) Sistem Pengendalian Internal.





Sementara Kakanwil Kemenag Sulawesi Selatan, H. Anwar Abu Bakar dalam sambutannya menyampaikan harapannya kepada seluruh satuan kerja yang menjadi sampel pemeriksaan kali ini agar bersinergi dan bekerjasama yang baik dengan pihak BPK RI. "Kami berharap satuan kerja proaktif dalam menyiapkan dokumen dan bahan agar pemeriksaan berjalan lancar dengan hasil yang baik," katanya.





Hj. Musyarrafah Amin saat dikonfirmasi mengatakan BPK RI akan melakukan pemeriksaan pada seluruh satuan kerja kurang lebih satu bulan lamanya. Ada pun jadwal pemeriksaan di IAIN Parepare akan berlangsung pada tanggal 18 s.d. 20 Februari 2020. Kegiatan pemeriksaan secara berurutan sesuai sampel di mulai dari UPT asrama HAJI, IAIN Palopo, UIN Alauddin, MAN 3 Makassar, IAIN parepare, Kemenag kota Makassar dan Kanwil Kementerian Agama Propinsi Sulawesi Selatan.


Minggu, 02 Februari 2020

OPINI : Sujud Kematian


Oleh : Budiman Sulaeman, Wakil Dekan I Fakshi IAIN Parepare





OPINI -- Tuhan melalui Nabi atau manusia pilihan-Nya mengajarkan kepada umat berbagai ritual keagamaan atau syariat sebagai medium untuk mencapai puncak pengabdian guna memuluskan perjalanan makhluk bernama manusia menjumpai Sang Khaliq (Pencipta, Allah).
Salah satu medium itu adalah shalat, dan di dalam shalat ada satu gerakan yang diperintahkan dilakukan bahkan diperbanyak dan diamalkan dengan penuh kesadaran, yaitu SUJUD. Gerakan sujud selain istimewa, juga dilakukan dua kali dalam satu rakaat shalat. Dua kali sujud dalam satu rakaat saat shalat ditegakkan sesungguhnya sangat filosofis. Disebut demikian karena ada pesan yang hendak disampaikan agar manusia memiliki kesadaran penuh dalam memaknai hidup dan kehidupannya. Ternyata dua kali sujud adalah isyarat bahwa kematian dan kehidupan yang telah dan akan dialami manusia dalam perjalanan menuju Allah masing-masing dua kali.
Ya… dua kali. Dua kali mati dan dua kali hidup. Kematian pertama, saat ‘manusia’ berada di suatu alam yang disebut alam ghaib jauh sebelum manusia hadir di alam arham. Kematian kedua saat ruh meninggalkan tubuh manusia di alam syahadah (dunia). Kehidupan pertama manusia ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad saat berada dalam kandungan ibunya. Sedangkan kehidupan kedua manusia saat ia dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan setiap episode kehidupannya di alam syahadah (dunia).
Mengapa simbol gerakan SUJUD, mengapa bukan yang lain? Karena manusia saat SUJUD ia menempelkan kepala di tanah (bumi) agar kesadarannya terbuka bahwa manusia berasal dari tanah dan sekaligus mengingatkan fase kematian pertamanya. Saat bangkit dari sujud pertama, Sang Khaliq hendak mengingatkan manusia bahwa sebelum hidup di alam arham (rahim ibu), manusia pernah mengalami kematian pertama di alam ghaib lalu dihidupkan untuk pertama kalinya.
Ini adalah cara Tuhan agar manusia tidak lengah bahwa episode kehidupan di bumi (di alam syahadah) bukanlah kehidupan yang hakiki dan sesungguhnya, walau dalam kenyataan di bumi manusia seringkali terlena dengan ke-semusementara-an bumi dengan segala atribut kehidupannya. Maka manusia di-SUJUD-kan kedua kalinya untuk me-refresh kesadaran perjalanannya bahwa semua yang bernyawa pasti berujung pada kematian (pasti memasuki alam barzakh/kubur) sebagaimana kematian pertama yang dialaminya saat berada di alam ghaib sebelum di-pindahtitip-kan ke alam arham.
Kematian kedua manusia di alam syahadah bukan akhir segalanya karena kehidupan kedua di alam akhirat berbeda secara diametral dengan kehidupan pertama di alam arham (kandungan) dan episode kehidupan di alam syahadah (dunia). Itu sebabnya saat seorang sâjid melakukan gerakan SUJUD kedua dalam shalat, ia kembali bangkit dari SUJUD untuk ‘menjewer’ kesadarannya bahwa setelah kematian kedua di dunia masih ada kehidupan kedua yang bersifat kekal dan hakiki di alam akhirat kelak.
Allah, dalam Alquran, hendak menghentak kesadaran manusia agar betul-betul menyadari eksistensi dan pengalaman dua kematian dan dua kehidupan, dalam bentuk dan simbol SUJUD dua kali dalam shalat. Ayat itu termaktub di surah Thaha [20]: 55 berikut:





مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ





Terjemahnya:
“Dari bumi/tanah Kami menciptakan kamu dan kepada bumi/tanah Kami akan mengembalikan kamu (dengan kematian) dan dari bumi/tanah Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain (pada Hari Kiamat)”.





Karenanya, manusia dalam meniti episode kehidupannya di bumi ini mesti menata dengan apik, yang salah satu bentuknya adalah melakukan “SUJUD KEMATIAN” atau “SHALAT INNÂ LILLÂHI”. Dalam kehidupan nyata, Allah kerap memperlihatkan bukti kekuasaan ghaibnya melalui peristiwa lahiriah misalnya saat seorang hamba mengakhiri episode kehidupannya di dunia dalam kondisi SUJUD. Dalam bahasa yang lain, ada ungkapan keagamaan: mûtû qabla an tamûtû (matilah sebelum kalian mati atau shalatlah sebelum kalian dishalati) agar kehidupan keduamu selamat sentosa dan berhasil menjumpai Sang Khaliq dalam keadaan ridho dan diridhoi. Mudah-mudahan.[*]





Editor : Alfiansyah Anwar


Swafoto Pencitraan? Ini Bahkan Lebih Baik


Oleh : Sirajuddin, Pustakawan IAIN Parepare





OPINI -- Jalan rusak dan licin yang masih kita saksikan beberapa waktu yang lalu kini sudah berganti dengan jalan beton. Jalan menuju perpustakaan dan auditorium IAIN Parepare itu menelan anggaran tidak kurang dari Rp800 juta. Jalan beton tersebut kini sudah rampung dan mahasiswa bisa mengakses buku-buku perpustakaan dengan mudah.









Tulisan tentang infrastruktur jalan dan gedung perpustakaan kampus ini hanya untuk mendeskripsikan emosi rasa senang menyaksikan para pemustaka (pengunjung perpustakaan) beriring iringan di jalan menuju perpustakaan IAIN Parepare.





Gedung perpustakaan IAIN Parepare semakin terlihat menawan dengan kemegahaanya setelah akses jalan beton rampung ditambah gedung kembar yang berdiri kokoh di depan perpustakaan. Gedung tersebut sumber penganggarannya dari SBSN 2019 sernilai Rp18 miliar lebih dipersiapkan sebagai gedung Rektorat IAIN Parepare. Di sisi kiri perpustakaan, kita bisa lihat auditorium megah yang sudah terbangun.





Gedung atau ruang perpustakaan adalah bangunan sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh pemustaka sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanen, (Soejono Trimo, 1986).





Kampus dengan orang-orang yang cerdas, literat, cendekia yang kerasan berlama lama di dalam perpustakaan, menyelesaikan tugas perkuliahan ataupun hunting buku kesayangan, berdiskusi adalah sebuah harapan.





Dari dalam gedung perpustakaan sambil membaca, kita bisa melihat keluar dari jendela lebar yang berbaris seakan menopang dinding, view gedung yang berbaris rapi di sekitar perpustakaan dan laut pantai yang berjarak kurang dari 1 kilometer dengan hamparan perkotaan yang berjejal.









Aroma menuntut ilmu, berburu ilmu dan belajar akan menyeruak seketika tiba di dalam perpustakaan yang tidak pernah sepi dari pengunjung di hari perkuliahan aktif ini.





Apakah mungkin? Disuatu hari nanti tempat yang sejuk di dalam perpustakaan akan bisa menjadi tempat pilihan berkontemplasi menenangkan diri, menghilangkan dahaga dari kekeringan ilmu seperti kondisi-kondisi yang saya gambarkan…?





Atau jumlahnya akan melebihi pemustaka yang tiap hari beriringan menuju perpustakaan atau mungkin suatu suatu saat mungkin hilang karena gagal cinta Perpustakaan?





Civitas akademik yang mayoritas mahasiswa itu yang masih dengan semangat gegap gempita berkunjung ke perpustakaan yang oleh Rektor akan diberi nama "Perpustakaan KH Ambo Dalle" ini, untuk merasakan kenyamanan di dalam perpustakaan dengan view pantai dan barisan gedung megah di sekitar perpustakaan.





Bagi yang keranjingan membaca, tentu kondisi ini akan mengusik antusias membaca. Saya berharap kondisi ini bertahan dan mampu menjadi awal para pemustaka atau civitas akademik untuk cinta membaca dan cinta perpustakaan.





Mahasiswa saat ini dengan mudah dan nyaman mengakses dan menikmati membaca di perpustakaan dengan selesainya akses jalan beton menuju perpustakaan.





Akan tergambar juga habituasi remaja milenial ketika berada di tempat dengan view yang menarik akan mengambil gawai dan ber swafoto mengunggah memberikan citra pada dirinya bahwa sudah berkunjung keperpustakaan.





Hmm… "Meskipun hanya pencitraan kalau itu di perpustakaan akan lebih bernilai ketimbang tidak pernah ke perpustakaan sama sekali", ini yang ada di benak saya.









Saat ini kita masih dihadapkan pada kemalasan membaca, kita sudah lama sekali memunggungi kemalasan membaca, di era disrupsi informasi dan pmbangunan infrastruktur perpustakasn saat ini. Sangat absurd jika kemalasan membaca itu ada.





Dibutuhkan adanya pengkondisian, upaya pengakulturasian budaya membaca dan cinta perpustakaan sehingga akan mengangkat opini publik bahwa masyarakat kampus adalah masyarakat ilmiah. (*)





Editor : Alfiansyah Anwar


Sabtu, 01 Februari 2020

LPM Expose Hasil Audit Mutu Akademik Internal Fakultas Tarbiyah, Ini Hasilnya


IAIN PAREPARE -- Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) menggelar Expose Hasil Audit Mutu Akademik Internal (AMAI) di Ruang Seminar Fakultas Tarbiyah, Kamis (30/1/2020).





Kegiatan ini dihadiri dekan dan jajarannya serta dosen pada setiap Program Studi Fakultas Tarbiyah.





Expose AMAI kali ini diselenggarakan di fakultas sekaligus Pendampingan Persiapan Akreditasi Program Studi.





Hasil Expose AMAI disampaikan Kepala Pusat Penjaminan Mutu Akademik, dan Kegiatan Pendampingan dibimbing langsung Kepala Pusat Akreditasi. Ini bertujuan agar pemaparan hasil expose dan pendampingan lebih terperinci dan terarah.





Kepala Pusat Penjaminan Mutu Akademik LPM, Dr Muzdalifah Muhammadun, M.Ag mengemukakan bahwa 13 prodi yang menjadi auditi pada tahun 2019 akan mengajukan akreditasi dan reakreditasi pada tahun ini. Sedangkan, hasil audit secara keselurahan pada 13 prodi ini berada pada tingkat baik dan baik sekali.





Pemaparan Hasil Audit oleh Kepala Pusat Penjaminan Mutu Akademik LPM




Pelaksanaan audit ini merupakan salah satu cara evaluasi yang dilakukan untuk memperoleh ruang peningkatan mutu pendidikan tinggi. Sesuai amanat UU Nomor 12 Tahun 2012 menyatakan tentang manajemen SPMI yang meliputi penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian dan peningkatan yang kita kenali dengan sebutan PPEP.





“Salah satu siklus PPEP ini adalah evaluasi yang mana evaluasi ini terwujud dalam bentuk AMI atau AMAI,” jelas Muzdalifah.
Instrumen penilaian pada AMAI kali ini mengacu pada instrumen 9 kriteria Akreditasi BAN PT, meskipun matrik penilaian belum sepenuhnya selaras.





“Harapan kami semoga penjelasan AMI pada tahun mendatang lebih baik dan menghasilkan hasil audit dari baik sekali menjadi unggul. Juga instrumen penilaian yang digunakan sudah semakin lengkap sesuai dengan penilaian matrik akreditasi BAN PT,” tambahnya.





Kegiatan ini disambut antusias audiens dengan memberikan feedback dan pertanyaan seputar hasil pemaparan dan pendampingan. Kegiatan Expose AMAI dan pendampingan ini juga akan dilaksanakan pada tiga fakultas serta Program Pascasarjana. (*)





Penulis : Musmulyadi
Editor : Alfiansyah Anwar


Buku Iqro Sudah Lama Memprediksi Terjadinya Virus Corona, Benarkah ?


Oleh : Musmulyadi, S.H.I.,M.M





Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Parepare





OPINI -- Beberapa pekan terakhir ini dunia dihebohkan dengan kabar Virus Corona yang telah menyebar dan mampu menyebabkan kematian. Persentase kematian mengenai virus corona sangat tinggi dan berbahaya sebab sudah mulai menjelajah di berbagai negara.





Menurut berbagai klaim yang menyebar, virus corona tersebut merupakan virus buatan pemerintah China yang disimpan di markas militer di Wuhan. Rencananya, virus itu akan disebarkan ke seluruh dunia demi menarik uang dari hasil penjualan vaksin.





Setelah dianalisa dan dilakukan kajian, diduga virus corona sengaja dibuat pemerintah China sebagai senjata biologis yang mematikan. Ada dugaan terjadi kebocoran penyimpanannya di markas militer di Wuhan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa hanya di Kota Wuhan korban pada berjatuhan seketika? Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kebocoran virus corona mencemari udara kota Wuhan dan yang sempat menghirup jatuh dan mati seketika.





Ada juga pendapat Ahli yang mengatakan virus corona Wuhan berasal dari kelelawar karena lebih dari 75% penyakit yang muncul berasal dari hewan yang dinamakan penyakit “zoonosis” dengan artian penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Banyak juga orang yang tidak sependapat dengan hal tersebut, akan tetapi masyarakat Indonesia pun harus waspada agar tidak menjangkiti warga karena virus cepat menyebar dari manusia ke manusia.





Dalam pandangan Islam di dalam Al-Quran memang tidak ada disebutkan larangan memakan daging kelelawar secara eksplisit. Kalaupun ada yang mengharamkan, maka sesuatu yang haram boleh dimakan atau dipergunakan sepanjang kondisi yang darurat, dalam artian memang tidak ada lagi obat yang halal dan apabila tidak dipergunakan, maka penyakitnya akan menjadi lebih parah. Penyakitnya tidak akan bisa sembuh atau bahkan berakibat menjadi mati.





Tapi sepanjang masih ada obat atau alternatif yang lain, maka tidak ada rukhshoh, tidak pula ada toleransi.





Imam Syihabuddin mengatakan, “Apa yang dilarang dibunuh, berarti haram dimakan.” Sementara banyak orang yang menggunakan kelelawar ini sebagai obat penyakit sesak nafas atau asma. Namun semuanya berubah seketika dengan adanya virus corona, kelelawar yang dulunya disebut sebagai obat berubah menjadi pembawa virus.





Dengan kemunculan virus ini di Kota Wuhan China, banyak manusia yang mencocokologikan antara virus corona dengan Al-Quran. Padahal Agama kita ini adalah agama dalil bukan agama cocokologi “Tanpa Ilmu.”





Banyak warganet di media sosial yang mengatakan bahwa virus corona tercipta pada zaman pendusta yang sudah ada sejak zaman dulu. Begitu komentar salah satu dari akun media sosial.





Dapatkan berbagai berita update kampus dan opini menarik lainnya di www.iainpare.ac.id




Padahal yang mereka terjemahkan ini buku belajar membaca Al-Qur’an atau biasa kita sebut Iqra’, bukan buku bahasa arab yang bisa diartikan dan menjadi suatu kalimat. Jangan mencocoklogikan suatu yang tidak ada hubungannya apalagi yang berkaitan dengan agama, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.





“Qo-Ro-Na” itu artinya menemani, kalau virus yang lagi viral itu “Kurunaa” (dalam bahasa arab) pakai huruf “kaf” bukan “qof”. Bisa dilihat di berita-berita timur tengah “Kholaqo” itu artinya menciptakan, kalau diciptakan itu “khuliqo” pakai Fi'il Madhi Majhul.





Kadzaba juga fiil madhi yang artinya berbohong. Kalau mau diartikan sebagai "dusta/bohong" maka harus pakai mashdar "kadzibun", tidak boleh pakai fiil madhi. Ingat, bahasa arab itu tidak bisa sembarangan diterjemahkan. Salah harakat salah arti.





Salah satu korban dari cocoklogi (disinformasi) istri penyanyi religi yang menampilkan salah satu halaman di buku tersebut yakni di bagian huruf “nun”.





Di situ ada bacaan 'qorona' yang digarismerahkan. Istri sang penyanyi religi itu juga menggarismerahkan beberapa kata seperti 'khalaqo', 'zamana', dan 'kadzaba'. Keempat kata itu diartikan yang keseluruhannya ialah Virus Qorona tercipta pada zaman penuh dusta. “Tidak ada kata kecuali kata “Subhanallah” segalanya tiada ada yang kebetulan, yakinlah bahwa setiap kejadian di alam semesta ini baik itu ucapan, perbuatan, tulisan ada dalam kekuasaan dan pengetahuan Allah, karena tidak akan terjadi kecuali jika Allah tidak mengizinkan," tulisnya di Instagram.





Boleh saja setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda dalam memandang suatu peristiwa, bahkan tidak sedikit orang yang berbeda pendapat terkait persoalan virus ini. Namun sebenarnya masalah yang urgent sekarang bukan terletak pada penafsiran virusnya, tetapi bagaimana cara mengantisipasi agar virus ini tidak masuk ke Tanah Air.





Senada yang disampaikan oleh Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu bahwa, "Memperhatikan jumlah hoax terkait Virus Corona yang makin banyak ini, kita tentu sangat prihatin, jangan sampai energi bangsa kita malah justru fokus pada hoax Virus Corona ketimbang pada pemberitaan mengenai langkah pemerintah mencegah Virus Corona masuk ke wilayah Tanah Air kita."





Dilanjutkannya, Kominfo akan terus berusaha memerangi hoax dan disinformasi melalui internet, termasuk media sosial. Cyber patrol akan terus dilakukan, blokir hoax akan terus digencarkan. (*)





Editor : Alfiansyah Anwar


Bersiaplah “Siyaga” akan Hadir di FEBI, Kapan?


IAIN PAREPARE — “Siyaga” merupakan nama dari Koperasi Syariah yang dicetuskan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di ruang seminar siang tadi, Jumat (31/01/2020).





Pembentukan “Siyaga” dilakukan setelah memenuhi beberapa unsur persyaratan forum.





Turut hadir dalam pembentukan Siyaga yakni Dekan Febi, Wadek 1, Wadek 2, Ketua Prodi, dan beberapa dosen dalam lingkup Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.





"Pembentukan Koperasi Syariah “Siyaga” FEBI salah satu tujuannya adalah untuk menjadi laboratorium bagi mahasiswa khususnya prodi ekonomi syariah," ungkap Kamal Zubair, Dekan FEBI.





Orang nomor satu di FEBI ini juga berharap koperasi syariah nantinya bisa memberikan kesejahteraan bagi anggota keluarga besar FEBI. “Jadi Insya Allah semua syarat administrasi akan kita lengkapi bersama dan dalam waktu dekat akan kita launching,” ungkapnya.





Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Dekan 2 FEBI, Yasin Soumena. Ia mengatakan, ke depan FEBI akan melakukan beberapa terobosan. Salah satu diantaranya adalah pembentukan Koperasi Syariah yang rencana akan beroperasi dalam waktu dekat , rencananya bulan depan. “Insya Allah dalam waktu dekat koperasi ini akan beroperasi, setelah semua persyaratan administrasi terpenuhi maka kita langsung jalan,” tegasnya.





Harapan bersama para pemangku kebijakan yang ada di FEBI ialah bagaimana menjadikan FEBI sebagai Pilot Project (Percontohan) untuk fakultas-fakultas yang lain, tentunya hal ini memerlukan beberapa terobosan-terobosan yang baru dan bermanfaat bagi institut dan bagi FEBI khususnya. (*)





Penulis : Musmulyadi
Editor : Alfiansyah Anwar


Jumat, 31 Januari 2020

IAIN Parepare Nusantara Press Lampaui Target Terbitkan Buku


IAIN PAREPARE---- Tahun awal berdirinya IAIN Parepare Nusantara Press telah berhasil menerbitkan 55 buku ber ISBN (International Standard Book Number). Tahun 2019 awal berdiri hanya menargetkan 30 judul, namun sungguh diluar dugaan telah melampaui target. Hal ini disampaikan oleh Ketua penerbitan IAIN Parepare Nusantara Press Dr Muh Ali Rusdi saat diwawancarai di ruang website IAIN Parepare, Rabu (29/01).





Menurutnya, pencapaian tersebut melebihi target yang sebelumnya hanya sekitar 30 buku saja. Namun, tingginya antusias dosen serta kemudahan dalam pengurusan ISBN melalui IAIN Parepare Nusantara Press sehingga mampu melebihi target.





“Para dosen merasa lebih mudah, tidak seperti yang
dibayangkan terkait penerbitan. Dikiranya rumit, ternyata sederhana,” ucap Muh Ali
Rusdi





Lebih lanjut Dr Muh Ali Rusdi yang juga merupakan Kepala
Pusat Penerbitan dan Publikasi LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat) IAIN Parepare ini mengaku tidak memungut biaya untuk pengurusan
ISBN.





“Kami tidak memungut biaya sepersepun terkait penerbitan
ISSBN, nanti kalau mau cetak kita bantu carikan percetakan sesuai dengan keinginan
dari masing-masing penulis,” terangnya.





Berbagai buku karya dosen dan kolaborasi dengan mahasiswa
seperti buku daras, ontology dan berbagai macam buku referensi.





“Untuk tahun 2020, kami targetkan 100 buku. Kendalanya tidak ada biaya operasional padahal penerbit itu berkewajiban mengirimkan minimal dua eksamplar, satu di perpustakaan nasional dan satu di perpustakaan provinsi. Namun, bapak Rektor sudah meminta saya untuk mengusulkan terkait revisi anggaran untuk penerbitan,” tambah Ali Rusdi.





Foto sisi kanan, Dr. M. Ali Rusdi dan Muhammad Haramain




Adapun dosen terproduktif menulis di antaranya Muhammad
Haramain, Mujahidah dan Ambo Rahman Masse.





Muhammad Haramain saat dikonfirmasi via whatsapp (Jum’at,
31/01) membenarkan telah menulis buku empat buah di tahun 2019.





“Alhamdulillah, pada tahun 2019, saya mempublikasi empat
buku, mengedit empat buku dosen sejawat, 
dua artikel jurnal terakreditasi dan dua artikel prosiding
internasional. Literasi intelektual mutlak dibutuhkan di sepanjang masa, karena
penyampaian tradisi keilmuan secara lisan itu sifatnya terbatas pada ruang
tertentu. Sedangkan tulisan dapat melampaui zaman,” ungkapnya.





Menurut Ketua Prodi Bimbingan Konseling ini, selain
mengajar, dosen juga harus melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Hal ini merupakan prinsip dasar dari tridharma perguruan tinggi. “Dosen menulis
buku adalah bagian dari itu sebagai sarana penyemaian ide dan gagasan yang
lebih meluas dan memeliki jejak intelektual,” tambahnya.





Saat ditanya terkait tips produktif menulis, Muhammad
Haramain mengaku terinspirasi dari judul bukunya Syaikh Ibnu Jauzi, Shaidul
Khaathir (Pengikat Ide yang Terlintas).





“Dia menulis ide dan gagasan yang terlintas di benak dalam
rangkaian catatan harian yang bagus sekali.





Gagasan yang baik itu tidak hanya di pikiran atau ucapan, baiknya juga dituangkan dalam tulisan yang diterbitkan. Prinsipnya adalah semangat berbagi, walau sedikit namun bermanfaat, sekecil apapun. Semangat untuk menanam amal jariyah bagi sesama. Sebagaimana seorang Ulama pernah berpesan, "al-ilmu fis sutuur, laa fish shuduur" yang berarti; ilmu itu penyebarannya dalam tulisan, bukan hanya di dada,” jelasnya. (Hyn/Mif)